Rupiah Melemah di Tengah Tekanan Data Ekonomi Global dan Inflasi Indonesia!

Cari Kabar – Nilai tukar rupiah kembali mencatat pelemahan pada Selasa (1/8), ditutup di level Rp15.115 per dolar AS. Mata uang Garuda melemah 35,5 poin atau 0,24 persen dari perdagangan sebelumnya. Mayoritas mata uang di kawasan Asia juga terpantau bergerak di zona merah.

Dalam perdagangan yang sama, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah melemah ke posisi Rp15.117 per dolar AS.

Data China Caixin menunjukkan sektor manufaktur mengalami kontraksi pada Juli 2023, yang menyebabkan mata uang Asia, termasuk rupiah, melemah terhadap dolar AS. Indeks manajer pembelian (PMI) menurun ke 49,2 dari bulan sebelumnya yang mencapai 50,5. Survei Caixin menunjukkan pasokan, permintaan, dan pesanan ekspor semuanya memburuk, dengan banyak pabrikan China menyalahkan kondisi pasar yang lesu baik di dalam maupun luar negeri.

Analis DCFX Futures Lukman Leong menyatakan bahwa rupiah, khususnya, juga mengalami tekanan setelah data menunjukkan inflasi tahunan (YoY) Juli Indonesia kembali turun. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan pada Juli 2023 sebesar 3,08 persen (YoY), turun dari 3,52 persen (YoY) pada Juni 2023. Inflasi bulanan juga lebih tinggi dibandingkan dengan Juni 2023, mencapai 0,21 persen.

Situasi tersebut memicu ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh BI, yang turut berkontribusi pada pelemahan rupiah. Mata uang negara maju pun ikut merosot, seperti euro Eropa, poundsterling Inggris, dolar Australia, franc Swiss, dan dolar Kanada.

Meskipun mengalami tantangan dalam tren nilai tukar, para ahli percaya bahwa kondisi ini memberikan peluang bagi investor dan pelaku pasar untuk mengambil langkah strategis dalam menghadapi fluktuasi nilai tukar dan memanfaatkan situasi ekonomi global yang sedang berubah.

Sumber : cnnindonesia.com