Penipuan iPhone Si Kembar, Korban Rugi Miliaran

Cari Kabar – Aksi dugaan penipuan yang dilakukan ‘si kembar’ menjadi sorotan di media sosial. Dua saudari kembar bernama Rihana dan Rihani disebut merugikan sejumlah korban mencapai Rp35 miliar. Hal ini berawal dari Pre-Order (PO) iPhone yang dilakukan keduanya. 

Perjalanan kasus ini dibagikan oleh akun Twitter @mazzini_gsp. Pemilik akun tersebut mengungkap jumlah kerugian tiap korban berbeda-beda. Ada yang merugi ratusan juta hingga miliaran rupiah. 

“Kasus penipuan pre-order iPhone yang dilakukan dua saudari kembar Rihana dan Rihani dengan total kerugian korban mencapai Rp35 miliar. Jumlah kerugian tiap korban bervariasi dari ratusan juta sampai miliar,” tulis akun @mazzini_gsp.

Menurut laporan akun tersebut, Rihana dan Rihani tinggal di Ciputat, Tangerang Selatan. Setelah kasus ini mencuat, keduanya disebut melarikan diri ke Surabaya, Jawa Timur. 

“Kedua terduga pelaku berdomisili di Ciputat tapi sekarang kabur ke Surabaya. Mungkin kawan-kawan yang di Surabaya kalau melihat pelaku bisa melaporkan ke polisi terdekat @PolrestabesSby,” ucap dia. 

Melalui unggahan lainnya, diduga banyak korban yang takut melaporkan kasus ini ke polisi. Para korban ini mengaku diancam saudari kembar tersebut akan melaporkan balik atas dugaan pencemaran nama baik. 

Warganet bahkan membuat akun Instagram khusus untuk mengusut kasus tersebut. Pada akun @kasusiphonesikembar, tertulis keterangan dari banyak masyarakat yang mengaku menjadi korban penipuan. 

“Kasus Iphone Si Kembar Netizen Indonesia yang baik, tolong bantu follow akun dan kawal kasus ini. Kerugian 35M+ Kronologi ada di feed. Grup diapus soalnya diancem UU ITE,” tulis keterangan dalam bio akun @kasusiphonesikembar. 

PPATK Blokir Rekening Pelaku

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) juga mendeteksi ada transaksi besar yang dilakukan si kembar. Keduanya disebut telah melakukan transaksi tunai berjumlah ratusan juta rupiah. 

PPATK mendeteksi ada 21 Penyedia Jasa Keuangan (PJK) Bank yang melayani transaksi tunai besar tersebut. Kedua pelaku diketahui melakukan transaksi tunai dengan cara menyetorkan uang sejumlah ratusan juta ke bank. 

Fakta itu didapat PPATK dari bank-bank yang bersangkutan. Sebagaiman aturan yang ada, bank wajib melaporkan transaksi keuangan bernilai besar. Batas limit transaksi bernilai besar itu adalah Rp500 juta sehari. 

Atas adanya laporan transaksi tersebut, lanjut Natsir, pihaknya telah memblokir rekening yang dipakai Rihana-Rihani maupun pihak terkait sesuai kewenangan yang dimiliki PPATK. 

Sumber: Liputan6