Top BannersTop Banners
FadeGallery - Free Version

I Gusti Ketut Pudja: Gubernur Pertama Sunda Kecil

CARIKABAR.COM - Pada November 2011 lalu Pemerintah Indonesia mengangkat tujuh pahlawan nasional baru. Di antara yang diangkat seorang putra Bali bernama I Gusti Ketut Pudja. Kelahiran 19 Mei 1908 ini berjasa antara lain ikut serta dalam perumusan negara Indonesia melalui Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia mewakili Sunda Kecil (saat ini Bali dan Nusa Tenggara).

Dia juga hadir dalam perumusan naskah teks proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Setelah Indonesia merdeka, kota Singaraja memegang peranan yang sangat penting. Kota ini dijadikan Ibu Kota Sunda Kecil. Pada 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno menunjuk Mr. I Gusti Ketut Pudja sebagai Gubernur Sunda Kecil dan Ida bagus Putra Manuaba sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia Sunda Kecil.

Dalam siding BPUPKI dan PPKI, I Gusti Ketut Pudja mengajukan usul keberatan mengenai pembukaan UUD. Keberatannya adalah dipakainya kata Allah pada kalimat "Atas berkat Allah Yang Maha Kuasa". Ia mengusulkan kata Allah diganti Tuhan. Dalam buku Risalah Sidang BPUPKI dan PPKI yang dikeluarkan Sekretariat Negara, Ketut Pudja tak menyebutkan alasannya

Namun melihat perdebatan sebelumnya di mana dasar negara ini harus tidak mencerminkan sebuah agama tertentu, agar bisa diterima oleh seluruh penduduk yang beragam agama, maka alasan Ketut Pudja pastilah tak jauh dari "menyelamatkan UUD 45 dari warna khas agama tertentu". Semangat seperti itu memang sudah ada dan karena itu ketika Soekarno yang memimpin sidang PPKI menawarkan kepada hadirin tentang usul perubahan itu, tak seorang pun keberatan. Dan Soekarno pun kemudian membacakan kembali Pembukaan UUD tersebut dengan perubahan yang diusulkan Ketut Pudja. Lalu disahkan.

Tak banyak literatur yang menyebutkan asal Pudja. Dia disebut sebagai putra kelima dari I Gusti Nyoman Raka, punggawa di Sukasada, Buleleng Dalam buku yang ditulis Ide anak Agung Gde Agung Kenangan di Masa Lampau: Hindia Belanda ia disebutkan sebagai sarjana hukum yang bekerja pada pemerintahan Hindia Belanda di Bali.

Dalam tahun 1935 Pudja telah mengabdikan dirinya pada Kantor Residen Bali dan Lombok di Singaraja. Tahun 1936, ia ditempatkan pada Pengadilan Negeri yang pada masa itu disebut Raad van Kerta. Pada awal pendudukan Jepang, I Gusti Ketut Pudja ditugaskan untuk mengaktifkan kembali kegiatan pemerintahan sipil. Ia diangkat oleh Kapten Kanamura dari Angkatan Darat Jepang untuk menjalankan kegiatan pemerintahan karesidenan di Singaraja dengan jabatan semacam residen. Setelah Angkatan Darat Jepang diganti dengan Angkatan Laut Jepang, Pudja diangkat sebagai giyosei komon (penasihat umum) cookan (kepala pemerintahan Sunda Kecil) sampai zaman kemerdekaan.

Sebagai gubernur pertama RI Sunda Kecil. Tugas yang dipikulkan oleh pemerintah pusat kepadanya tidaklah ringan. Di samping pemerintahan nasional RI Sunda Kecil, pemerintah pendudukan Jepang di Sunda Kecil masih tetap berkuasa, meskipun Jepang telah menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945. Di lain pihak, masih ada swapraja-swapraja yang sejak tahun 1938 diatur oleh pemerintah kolonial Belanda yang menetapkan daerah Bali atas delapan kerajaan.

Untuk menyatukan seluruh delapan kerajaan ini, Gubernur Pudja mengadakan perjalanan keliling Pulau Bali bersama dengan Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Sunda Kecil Ida Bagus Putra Manuaba. Mereka datang ke setiap kerajaan untuk memberi penerangan kepada raja-raja dan rakyat Bali mengenai kemerdekaan Indonesia dan telah berdirinya pemerintahan nasional RI Sunda kecil. Ia juga mengirim utusan ke Lombok dan Sumbawa Besar untuk tujuan yang sama. Di samping pembentukan KNI, di tingkat propinsi dan kabupaten dibentuk pula Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Selama menjabat Gubernur Sunda Kecil, I Gusti Ketut Pudja beberapa kali masuk tahanan. Pertama kali ia diculik oleh Jepang akibat penyerbuan para pemuda yang gagal untuk mendapatkan senjata pada 13 Desember 1945. Ia ditahan lebih kurang sebulan. Setelah dibebaskan dari tananan, I Gusti Ketut Pudja masuk ke daerah Republik Indonesia yaitu ke Yogyakarta . Kedatangannya disambut hangat oleh Presiden Soekarno. Ia ditempatkan pada Kementerian Dalam Negeri dan diberi tugas mengikuti jalannya pemerintahan di daerah-daerah.

Pudja wafat pada 4 Mei 1977 di RS Ciptomangunkusumo, Jakarta . Dalam usia 69 tahun, Pudja pergi untuk selama-lamanya meninggalkan sang istri, I Gusti Ayu Made Ngurah, beserta lima putra-putrinya yakni Drs. I Gusti Ngurah Arinton Pudja, I Gusti Made Arinta Pudja, S.H., I Gusti Ayu Nyoman Arinti Pudja, B.A., serta pasangan kembar I Gusti Ayu Ketut Karnini dan I Gusti Ayu Ketut Karnina.***(berbagai sumber)

Share melalui:

Komentar:

Add comment


Security code
Refresh

Mimbar

Regional

Sepak Bola

Ronaldo Patahkan Dominasi Messi Ronaldo Patahkan Dominasi Messi CARIKABAR.COM – Inilah hari yang diimpikan Cristiano Ronaldo. Pemain asal Portugal itu akhirnya ...
Inilah Jadual Siaran Langsung Sepakbola Dunia Inilah Jadual Siaran Langsung Sepakbola Dunia CARIKABAR.COM - Mental juara kembali diperlihatkan oleh AC Milan. Tim berjuluk "I Rossoneri" itu m...
MU Buktikan Diri Bukan Jago Kandang MU Buktikan Diri Bukan Jago Kandang CARIKABAR.COM - Kemenangan Manchester United atas Bayer Leverkusen membuktikan bahwa klub itu buka...
Delapan Tim Masuk Babak Knockout Delapan Tim Masuk Babak Knockout CARIKABAR.COM - Delapan laga terakhir telah mengantarkan Real Madrid, Manchester United, dan Paris...
Real Madrid Lolos ke 16 Besar Liga Champions Real Madrid Lolos ke 16 Besar Liga Champions CARIKABAR.COM - Real Madrid akhirnya melenggang ke babak 16 Besar Liga Champions musim ini, setela...